WR SOEPRATMAN:
Bangoenlah, Sadarlah, Madjoelah………
Nasibkoe soedah begini
Inilah jang disukai oleh
pemerintah Hindia Belanda
Biarlah, saja meninggal, saja ichlas
Saja toch soedah beramal,
berdjoang dengan tjarakoe
dengan biolakoe
Saja jakin, Indonesia pasti
Merdeka
SELAMAT TINGGAL, lirik terakhir yang ditulis di ranjang pengisi kamar 2 x 2 meter, dari sebuah rumah di Jalan Mangga No. 21, Kecamatan Tambaksari, Surabaya ini tak pernah selesai. Wage Rudolf (WR) Soepratman, sang penulis ini mangkat, tepat pada Rabu Wage, 17 Agustus 1938. Jauh sebelum bangsa yang dicintainya dan diyakininya akan segera merdeka ini memproklamasikan kemerdekaannya.
Tubuh pencipta lagu Indonesia Raya ini memang digerogoti penyakit paru-paru. Kehidupan sehari-harinya yang jauh dari layak—Pantalonnya yang dibikin dari kain berwarna putih sudah menjadi agak hitam. Di sana-sini terlihat rombeng, kain itu sudah kian menipis karena saking seringnya dipakai. Rumahnya pun cuma berupa gubug reyot. Upahnya sebagai wartawan nyaris tak cukup memenuhi kebutuhan hidupnya, bahkan untuk makan sehari-hari—menjadikan penyakitnya begitu cepat akut. Di akhir hayatnya, ia yang terus diburu polisi Belanda ini sempat meringkuk di penjara Kalisosok, Surabaya. Konon, alasan penjeblosan Soepratman ke penjara karena ia bersama sejumlah pemuda menyiarkan lagu ”Matahari Terbit” yang diciptakan pada Agustus 1938 di NIROM (Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschappij)—maskapai radio pemerintah Hindia Belanda yang setelah kemerdekaan dirubah namanya menjadi Radio Republik Indonesia—di Jalan Embong Malang, Surabaya.
"Harus saya akui, saya menitikkan air mata ketika membaca bagian yang mengisahkan akhir hayat Wage Rudolf Soepratman, pencipta lagu kebangsaan kita. Saya terharu, betapa orang sebesar dia harus mengakhiri hidupnya dalam kesepian dan kesengsaraan. Hidupnya sungguh tidak seindah lagunya," kenang Bung Karno.
Pejuang kemerdekaan yang lahir dan meninggal pada saat hari pasaran Wage ini menurut Keputusan Pengadilan Negeri Purworejo yang diterbitkan pada 29 Maret 2007, lahir pada Kamis Wage, 19 Maret 1903 di Dukuh Trembelang, Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Ketetapan PN Purworejo tersebut sekaligus membatalkan hari kelahiran WR Soepratman yang selama ini digunakan dan diperingati, yakni 9 Maret 1903.
Menurut Dwi Raharja, peneliti dan pembuat film dokumenter “Saksi-saksi Hidup Kelahiran Bayi Wage,” keterangan tentang tanggal lahir WR Soepratman itu sebenarnya telah terungkap dalam film dokumenter yang selesai dibuatnya pada Desember 1977 dan kini tersimpan di Museum Sumpah Pemuda, Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat (Kompas, 15 Maret 2008). Namun entah bagaimana, kekeliruan itu masih terus diberlangsungkan, termasuk ketika Presiden Megawati menetapkan hari lahir WR Supratman yang keliru itu—9 Maret 1903—pada tahun 2003, atau satu abad kelahiran WR Soepratman, sebagai Hari Musik Nasional. Begitu juga pada dinding Makam Pahlawan WR Supratman, di Surabaya yang hingga kini belum diperbaiki.
Komponis besar ini lahir dari seorang ibu yang bernama Siti Senen dan ayah yang bernama Djoemeno Senen Sastrosoehardjo, seorang serdadu Oost Indische Leger (Tentara India Timur) Batalyon VIII yang kemudian—1933—menjelma menjadi Koninklijk Nederlands-Indisch Leger (KNIL). Masuknya ayah Soepratman ke dalam dinas ketentaraan Hindia-Belanda ini sangat dimungkinkan karena sejak 1830—usai Perang Diponegoro—pemerintah kolonial Belanda banyak membeli budak-belian dari Gold Coast—sekarang Ghana—di Afrika Barat yang dibawa melalui St George d’Elmina menuju Hindia Belanda untuk dijadikan serdadu. Para budak belian yang kemudian menjadi serdadu dan dinamakan sebagai Belanda Hitam—zwarte Nederlander—ini sebagian besar ditempatkan di daerah Purworejo.
Soepratman sendiri merupakan anak kelima dari enam bersaudara: Roekijem Soepratijah, Roekinah Soepratirah, Ngadini Soepratini, Sarah, Soepratman, dan Gijran Soepratinah. Ketika Soepratman masih bayi—Juni 1903—keluarganya boyong ke Batavia dan bermukim di tangsi Meester Cornellis—sekarang Jatinegara, Jakarta Timur.
Di Batavia, ia menyelesaikan sekolah dasarnya. Konon, ketika hendak masuk sekolah di Batavia inilah, nama Wage mulai dilekatkan di depan Soepratman.
Pada tahun 1914, Soepratman dibawa ke Makasar untuk diasuh kakak pertamanya, Roekijem yang bersuamikan Willem Martinus (WM) van Eldik (Sastromihardjo), seorang Indo-Belanda yang menjabat sebagai sersan instruktur KNIL. Oleh kakak iparnya inilah, nama Wage Soepratman diberi tambahan Rudolf, dan menjadi Wage Rudolf Soepratman (WR) Soepratman.
Di Makasar, Soepratman masuk ke sebuah sekolah malam untuk mempelajari bahasa Belanda, di samping juga sekolah reguler di Europees Lagere School (ELS). Setelah lulus ELS, Soepratman melanjutkan studinya ke Normaal School. Pada usia 20 tahun, ia menjadi pengajar di sekolah untuk pribumi (Sekolah Angka Dua). Dua tahun selanjutnya ia mendapat ijazah Klein Ambtenaar, dan sejak itu Soepratman menuju kota Singkang untuk bekerja di sebuah perusahaan dagang. Namun, tidak lama ia merasa tidak betah lalu minta berhenti dan kembali ke rumah kakaknya di Makasar.
Minat Soepratman pada dunia musik termotivasi dari Roekijem dan suaminya. Kakak perempuannya itu memang menggemari sandiwara dan musik, khususnya memainkan biola. Seringkali Roekijem dan Willem van Eldik serta beberapa teman tentaranya mengadakan pertunjukan teater alakadarnya di mes militer. Lingkungan seni inilah yang membuat Soepratman menyukai musik. Dari sini, Soperatman pun mulai banyak membaca buku-buku tentang musik dan berlatih biola di bawah panduan Roekijam dan suaminya.
Di Makasar pula, pada 1920 Soepratman mendirikan grup band beraliran jazz dengan nama Black & White. Grup band jazz Soepratman ini termasuk generasi pertama kelompok musik jazz di Nusantara, di samping kelompok yang dipimpin Edward Edo Tambayong di Pulau Jawa. Saban malam minggu, Soepratman beserta band-nya memainkan jazz untuk mengiringi dansa tuan dan nyonya Belanda yang sedang menikmati libur akhir pekan.
Selain bermusik, Soepratman juga mulai menekuni bidang jurnalistik. Dari sini ia pun mulai tertarik kepada pergerakan nasional yang kala itu tengah mekar. Rasa tidak senang terhadap penjajahan Belanda juga mulai tumbuh dan akhirnya dituangkan dalam buku “Perawan Desa”. Namun, buku itu kemudian disita dan dilarang beredar oleh pemerintah Belanda.
Sampai kemudian, Soepratman memutuskan pindah ke Bandung dan bekerja sebagai pembantu di harian ‘Kaoem Moeda’. Setahun kemudian pindah ke harian ‘Kaoem Kita’, sebagai pimpinan redaksi. Pekerjaan sebagai jusrnalistik itu tetap dilakukannya sewaktu ia pindah ke Batavia dan menjadi wartawan Sin-Po, harian Tionghoa-Melayu yang banyak memihak para pejuang kemerdekaan.
Di Batavia, suatu hari ia membaca sebuah risalah di harian ‘Fajar Asia’. Sang penulis risalah—H. Agus Salim—menantang ahli-ahli musik Indonesia untuk menuliskan lagu kebangsaan. Dan, Soepratman pun terpanggil untuk memenuhi tantangan itu. Waktu itu, tahun 1924, dengan biola yang diberikan kakak iparnya, ia menuliskan lagu “Indonesia Raja” dalam tiga stanza yang menawan.
Stanza 1:
Indonesia Tanah Airkoe Tanah Toempah Darahkoe
Disanalah Akoe Berdiri Djadi Pandoe Iboekoe
Indonesia Kebangsaankoe Bangsa Dan Tanah Airkoe
Marilah Kita Berseroe Indonesia Bersatoe
Hidoeplah Tanahkoe Hidoeplah Negrikoe
Bangsakoe Ra’jatkoe Semoewanja
Bangoenlah Djiwanja Bangoenlah Badannja
Oentoek Indonesia Raja
(Reff: Diulang 2 kali, red)
Indonesia Raja Merdeka Merdeka Tanahkoe Negrikoe Jang Koetjinta
Indonesia Raja Merdeka Merdeka Hidoeplah Indonesia Raja
Stanza 2:
Indonesia Tanah Jang Moelia Tanah Kita Jang Kaja
Disanalah Akoe Berdiri Oentoek Slama-Lamanja
Indonesia Tanah Poesaka Poesaka Kita Semoenja
Marilah Kita Mendo’a Indonesia Bahagia
Soeboerlah Tanahnja Soeboerlah Djiwanja
Bangsanja Ra’jatnja Semoewanja
Sadarlah Hatinja Sadarlah Boedinja
Oentoek Indonesia Raja
(Reff: Diulang 2 kali, red)
Indonesia Raja Merdeka Merdeka Tanahkoe Negrikoe Jang Koetjinta
Indonesia Raja Merdeka Merdeka Hidoeplah Indonesia Raja
Stanza 3:
Indonesia Tanah Jang Seotji Tanah Kita Jang Sakti
Disanalah Akoe Berdiri Njaga Iboe Sedjati
Indonesia Tanah Berseri Tanah Jang Akoe Sajangi
Marilah Kita Berdjandji Indonesia Abadi
Selamatlah Ra’jatnja Selamatlah Poetranja
Poelaoenja Laoetnja Semoewanja
Madjoelah Negrinja Madjoelah Pandoenja
Oentoek Indonesia Raja
(Reff: Diulang 2 kali, red)
Indonesia Raja Merdeka Merdeka Tanahkoe Negrikoe Jang Koetjinta
Indonesia Raja Merdeka Merdeka Hidoeplah Indonesia Raja
Lagu ini pertama kali diperdengarkan untuk umum pada bulan Oktober 1928 di Jakarta, ketika dilangsungkan Kongres Pemuda II. Kala itu, atas saran Soegondo Djojopuspito, anak Mantri Juru Tulis Desa di Kota Tuban, ketua Panitia Kongres Pemuda II, dan juga kawan serumah Bung Karno waktu mondok di rumah HOS Tjokroaminoto di Surabaya, Soepratman diminta membawakan cipataannya itu pada malam penutupan kongres—28 Oktober 1928—secara instrumental dengan menggunakan biola.
Dan, semua orang terdiam saat syahdu biola membelah kesunyian. Aransemen lagu itu memang dahsyat, bak seloka yang dirangkai nyaris persis ketika Empu Walmiki merajut epos legendarisnya, Ramayana. Seorang muda berkacamata dengan baju dan peci lurik berdiri di deretan terdepan, menghadap para hadirin yang terhanyut syair-syair bernada patriotik itu. Jemari lihai lelaki duapuluhlima tahun itu memainkan biolanya dengan merdu. Itulah dia, Wage Roedolf Soepratman.
Beberapa hari kemudian, di halaman utama suratkabar Sin Po, berita tentang Sumpah Pemuda telah tercetak dan beredar. Teks Indonesia Raya pun terpampang dengan jelas. Sebuah tindakan yang cukup berani yang dilakukan media massa pada masa itu. Bahkan, Sin Po adalah satu-satunya koran pada kurun tersebut yang dengan gamblang dan terang-terangan memakai kata “Indonesia” di halaman pertama sebagai rubriknya. Tampaknya, bagi Sin Po, jauh lebih baik membantu Indonesia daripada bertekuk lutut di hadapan Belanda. Keberanian Sin Po tentu saja berpengaruh terhadap pemuda-pemuda Indonesia yang saat itu sedang bergelora untuk meleburkan diri dalam persatuan, termasuk pada diri Soepratman yang bekerja untuk suratkabar itu.
Konon. dalam menulis syair Indonesia Raya itu, Soepratman pernah mengaku bahwa, dia sangat terinspirasi oleh bagian akhir buku Massa Actie dari Tan Malaka. Buku yang ditulis dari persembunyiannya di Geylang Serai, Singapura—Tan Malaka menyebut Singapura dengan Tumasik, sebuah nama yang diberikan pada masa Madjapahit—ini memang menjadi inspirasi luar biasa bagi kalangan nasionalis pada waktu itu. Dalam bagian akhir buku Massa Actie itu, Tan Malaka menulis: ”Lindungi bendera itu dengan bangkaimu, nyawamu, dan tulangmu. Itulah tempat yang layak bagimu, seorang putra tanah Indonesia, tempat darahmu tertumpah.”
‘Cemaran’ gagasan Tan Malaka itu dalam lirik ‘Indonesia Raja’ memang nampak terasa. Namun Soepratman juga menuliskan stanzanya dengan sebuah gerak progresi yang begitu luar biasa: bangun, sadar, dan maju dalam.......”Bangoenlah Djiwanja, Bangoenlah Badannja.......Sadarlah Hatinja, Sadarlah Boedinnja....Madjoelah Negrinja, Madjoelah Pandoenja.....” yang kemudian bermuara pada satu tujuan, “Oentoek Indonesia Raja,” the Great Indonesia. Pertanyaannya kemudian, seberapa ‘Raya’ Indonesia kita kini?
Dari segi musikal, lagu Indonesia Raya nampak cukup dekat dengan lagu kebangsaan Prancis, la Marseillaise—the Song of Marseille—yang sempat dilarang pada masa Napoleon dan beberapa rezim berikutnya serta untuk kemudian—setelah 84 tahun dibekukan—dikukuhkan kembali pada tahun 1879 menjadi lagu kebangsaan Prancis. Namun demikian, antara keduanya juga menunjukkan perbedaan, terutama ketika la Marseillaise memberikan perintah tempur dan perang dalam larik.......aux arms citoyens, formez vous bataillons, marchons......para warga pangullah senjata, bentuk pasukan, maju....
Dari sisi syair, lagu Indonesia Raya nampak lebih mendekati lagu kebangsaan Jerman.....Deutschland, Deutschland uber alles, Uber alles in der Welt.....Bluh im Glanze dieses Gluckes, bluhe, deutsches Vaterland.....di dunia tak ada yang setaran dengan Jerman...mekarlah dalam sinar kebahagiaan, kembanglah tanah tumpah darah Jerman...
Hanya saja, dari sisi kenyataan, ke-Raya-an Indonesia kita sekarang nampaknya dihadang begitu banyak persoalan. Sebab faktanya, setelah lebih dari 60 tahun merdeka, dan setelah beribu dan berjuta kali seruan agar seluruh jiwa harus dibangunkan, hati harus disadarkan, demi kemajuan negeri dan pandunya, kita justru ternyata menjadi ’Indonesia cilik’ di abad 21. Tentu, ini menggelisahkan. Namun celakanya, para elit kita kerap silau oleh pujian dan lengah dengan jebakan yang ditebar setelah pujian itu dikabarkan.
Sekadar pengeling. Kala itu, Kamis 31 Juli 2008, di Istana Merdeka, Kishore Mahbubani, dekan Lee Kuan Yeuw School of Public Policy, yang juga merupakan salah seorang dari 100 tokoh intelektual paling berpengaruh di dunia memberikan pujian setinggi awan. (KapanLagi.com, 31/7/2008). Kata Mahbubani, yang juga penulis buku ”Can Asians Thinks?”, ”Beyond the Age of Innocence: Rebuilding Trust Between America and the World”, serta terakhir "The New Asian Hemisphere: the Irresistible Shift of Global Power to the East" yang diterbitkan di Februari 2008 lalu, ”Indonesia telah memainkan peran yang heroik dalam transformasi Asia. Terbukti, Indonesia sukses melewati transisi yang paling sulit menuju demokrasi utuh. Itu adalah kisah membanggakan yang tidak sepenuhnya dipahami dunia.” Mahbubani juga merasa optimistis akan kelanjutan peran Indonesia dalam kontribusinya bagi kesuksesan Asia.
Pemimpin negeri ini pun mengaku senang. Upaya jatuh bangun Indonesia membangun demokrasi mendapatkan pengakuan dan dinilai sudah berada dalam jalur yang tepat. Namun, presiden melanjutkan, "Ini bukan masalah senang atau tidak senang. Kita belum puas karena transformasi kita menuju demokrasi belum cepat, meski sudah di jalur yang tepat."
Dan, tiga minggu setelah pujian Mahbubani, Lee Hsien Long—dengan mengatasnamakan demokrasi dan hak asasi manusia—mendesak percepatan ratifikasi Piagam Asean (Asean Charter), yang rumusannya telah disepakati pada KTT ke 13 Negara-negara Asean, 18-22 November 2007. Apa artinya bagi kita?
Meratifikasi Piagam Asean berarti menyetujui liberalisasi. Artinya, menyetujui bahwa peran negara Indonesia di tanahnya sendiri direduksi sampai titik nol. Menyerahkan kedaulatan RI—mengatur pasar (kehidupan) di tanah airnya sendiri—kepada otoritas Asean. Padahal, UUD 1945 telah dengan jelas menentukan kemana arah kita melangkah. Satu hal yang sangat pasti dan jelas: Bukan pasar bebas, yang melumatkan mereka yang lemah.
Saya tidak tahu, apakah nasib bangsa ini pada lima-sepuluh tahun mendatang nanti akan seperti bekas kediaman terakhir dan tempat mangkat WR Soepratman—pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, Di Timur Matahari, RA Kartini, dan Matahari Terbit—di Jalan Mangga, Tambaksari, Surabaya yang kini serba muram, mengenaskan, dan rapuh tak terurus serta tanpa pembelaan di balik gemerlap pikuk metropolitan—kota pahlawan—Surabaya yang nampak-nampaknya semakin lupa pada jasa pahlawannya?** (IB)
Jumat, 19 Juni 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar
Komentar Anda..