Jumat, 19 Juni 2009

BLUES & JAZZ:
Rintihan Budak Belian
BERAWAL dari rintihan kaum negro yang dihisap kaum kulit putih, lalu lahirlah genre musik pertama yang merefleksikan pengalaman kerinduan tentang kemerdekaan: Blues. Musik ironi Amerika Serikat, sebagaimana ide-ide lain yang dijajakannya kemudian yang juga sarat ironi.
Dari ladang-ladang perkebunan kapas milik orang Prancis di delta sungai Missisipi berabad lalu, para budak belian—kaum negro—bukan hanya harus bekerja paksa, tetapi juga dilarang berbicara satu sama lain

, walau pada saat istirahat sekalipun. Dan ini masih terus berlangsung hingga paruh abad ke 20. Meskipun—juga di Mississippi—lahir gagasan persamaan hak-hak sipil yang menjadi rumusan pernyataan kemerdekaan, 7 Juli 1774. Juga bahkan pada Thomas Jefferson sendiri yang dalam declaration of independence menyatakan bahwa, "all men are created equal; that they are endowed by their Creator with certain unalienable rights; that among these are life, liberty, and the pursuit of happiness." Bahwa kebebasan dan persamaan hak seharusnya dijamin, namun ia sendiri masih menyimpan budak di Afrika. Sementara para budak Afrika yang diboyong ke benua yang ditemukan Amerigo Vespucci itu juga tidak serta-merta mendapatkan haknya. Mereka harus mengalami perjuangan yang begitu panjang sebelum akhirnya beroleh persamaan hak. Mereka tidak memiliki peluang untuk memilih pemimpin, memulai usaha, memiliki rumah sendiri, bahkan bersekolah. Mereka tidak bisa menjalani kehidupan yang mereka inginkan. Pun, ketika Presiden Abrahan Lincoln menyatakan pengakhiran konflik ras dan sengketa kulit hitam-putih—rasial—yang kemudian menumbalkan Abraham Lincoln sendiri, di tahun 1865.
Memang, jauh sebelum abad ke 18, orang telah mengenal perbedaan warna kulit dan corak hidung yang berbeda-beda. Orang Jawa misalnya melihatnya dalam wayang kulit: ada sosok sabrangan yang besar dan kasar dan “raksasa” yang gempal dan bundar, yang berbeda dengan raut wajah dan bentuk tubuh para Pandawa dalam Mahabharata dan Rama dan Laksmana dalam Ramayana.
Tapi menata wayang—dengan pakem yang tetap—tak sama dengan menata manusia. Menata manusia adalah obsesi kekuasaan politik. Klasifikasi penduduk adalah keputusan sebuah sistem yang mau membereskan hal ihwal, mau menguasai dan mengarahkan. Saya kira David Theo Goldberg benar—terutama dalam The Racial State, yang diterbitkan tahun 2002—ketika ia menunjukkan bahwa kategori “ras” lahir sebagai modus untuk mengelola krisis, mengelola apa yang dibikin sebagai ancaman, serta mengekang dan mengasingkan “tantangan dari apa yang tak diketahui”, the challenge of the unknown.
Hanya saja, manusia bukan sekadar rumusan yang sarwa mekanik. Selalu ada lompatan dan dalam keterbatasan yang pengap, para budak ini pun berlomba mencari rembesan, menikmati ruang gerak yang paling mungkin dan itu hanya mereka dapati dalam perjalanan dan seksualitas.
Seksualitas, menjadi simbol kekebasan yang pada perjalanannya kemudian menjadi sebuah keasyikan tersendiri tentang hubungan personal dalam menyuarakan kemerdekaan. Sementara perjalanan—di samping tetap memantapkan fungsinya sebagai penegasan atas kebebasan fisik yang mulai tersibak sejak kematian Lincoln—muncul sebagai salah satu tujuan praktis: mencari kehidupaan yang lebih layak, di kota-kota yang kumuh, tempat pelarian yang menyingkir dari muramnya hidup di perdalaman.
Dan seperti novel Toni Morisson—Jazz—yang terbit di tahun 1992, jauh sebelum akhirnya Marin Luther King tewas ditembak, ”muram” di Amerika Serikat kala itu berarti ”hitam” yang dianiaya oleh orang-orang kulit putih di wilayah Selatan. Dan di Indonesia masa kini, ”muram” berarti si muda yang terimpit miskin dan pengangguran. Kedua-duanya berbeda, dan perbedaan itu amat penting, tapi pada akhirnya kedua-duanya mengiris dan menorehkan kepedihan. Juga kebengisan.
Pengelanaan yang penuh luka itu kemudian memunculkan figur-figur pemusik dan penembang blues brilian yang mengenal musik secara otodidak. Figur-figur yang umumnya mempunyai stereotip: lelaki kulit hitam yang menyandang gitar, melakukan pengembaraan sambil mengisahkan dengan suara serak kehidupan mereka yang kelam, pedih dan selalu menyayat-nyayat seolah membawa sukma dari kampung halaman mereka yang menyedihkan.
Lihatlah misalnya lirik pemberontakan dan sekaligus nuansa kelam dalam lagu Poor Man's Blues-nya Bessie Smith.
Mister rich-man, rich-man, open up your heart and mind
Mister rich-man, rich-man, open up your heart and mind
Give the poor man a chance, help stop these hard, hard times
While you're livin' in your mansion you don't know what hard times means
While you're livin' in your mansion you don't know what hard times means
Poor working man's wife is starvin', your wife is livin' like a queen
Please, listen to my pleading, 'cause I can't stand these hard times long
Oh, listen to my pleading, can't stand these hard times long
They'll make a honest man do things that you know is wrong
Poor man fought all the battles, poor man would fight again today
Poor man fought all the battles, poor man would fight again today
He would do anything you ask him in the name of the U.S.A.
Now the war is over, poor man must live the same as you
Now the war is over, poor man must live the same as you
If it wasn't for the poor man, mister rich-man what would you do?
Bessie yang lahir di Chattanooga, Tennessee, 15 April 1894 ini sejak usia sembilan tahun memang sudah menyanyi di pojok-pojok jalanan kota kelahirannya. Ia yang bersama tujuh saudaranya sudah tidak berayah sejak masih bayi dan kemudian ditinggal Ibunya pada usia delapan tahun ini memang harus mengamen, mengharapkan belas kasih dari para pekerja pabrik, selain kadang juga menyanyi di Ivory Theatre.
Bertahun kemudian, kehidupan Bessie memang kemudian berubah. Ia yang sempat membuat rekaman bareng Louis Amstrong dan Fletcher Henderson sekitar tahun 1929, selain juga menyanyi sendiri ini, relatif banyak membuat album rekaman. Beberapa diantaranya adalah Any Women’s Blues, Empty Bed Blues, The Empress, Nobody Blues but Mine, dan World’s Greates Blues Singer.
Namun, seperti masa lalu Bessie…… selalu ada saat yang tak mudah untuk berbicara, tapi tidak gampang untuk diam. Dan blues yang menjadi akar utama dari musik Jazz, nampaknya mempunyai kapasitas berlebih untuk menampung semua itu. Walaupun, kita tidak tahu pasti bagaimana persisnya kata-kata akan diberi harga—setelah menjadi lagu tentu saja—dan apakah sebuah isyarat akan sampai. Di luar pintu, pada saat seperti ini, hanya ada mendung, atau hujan., atau kebisuan, mungkin ketidakacuhan. Semuanya teka-teki.…mungkin seperti lirik Drunken Hearted Man milik Robert Johnson dengan berbagai getar luka dan teka-tekinya………...
I'm a drunken hearted man
my life seem so misery
I'm the drunken hearted man
my life seem so misery
And if I could change my way of livin'
it t'would mean so much to me
I been dogged and I been driven
eve' since I left my mother's home
I been dogged and I been driven
eve' since I left my mother's home
And I can't see no reason why
that I can't leave these no-goods womens alone
My father died and left me
my poor mother done the best that she could
My father died and left me
my poor mother done the best she could
Every man likes that game you call love
but it don't mean no man no good
Now, I'm the drunken hearted man
and sin was the cause of it all
spoken: Oh, play 'em now
I'm a drunken hearted man
and sin was the cause of it all
And the day that you get weak for no-good women
that's the day that you bound to fall
Memang cukup banyak juga lagu blues yang tercipta karena hal-hal lain. Cinta, misalnya. Namun cinta dalam blues sering bukan cinta yang normal, tapi cinta yang disertai kekecewaan, dendam dan pengkianatan. Robert Johnson sendiri mati diracun karena terlalu dekat dengan pacar orang lain dan kemudian menuangkannya dalam sepotong blues.
Begitu juga dengan Layla karya Eric Clapton. Lagu itu mengkisahkan cinta 'terlarang' Eric terhadap Patti Boyd yang tidak lain adalah istri sahabatnya sendiri, George Harrison.
Demikian pula dengan Tears in Heaven yang tercipta sebagai ungkapan kepedihan Eric karena putrinya yang berusia 4 tahun tewas terjatuh dari apartemen bertingkat tinggi.
Would you know my name, if I saw you in heaven
Would it be the same if I saw you in heaven
I must be strong and carry on
'Cause I know I don't be long here in heaven
Would you hold my hand if I saw you in heaven
Would you help me stand if I saw you in heaven
I'll find my way through night and day
'Cause I know I just can't stay here in heaven
Time can bring you down,
time can bend your knees
Time can break your heart
have you beggin please beggin lease
Beyond the door there's peace for sure
And I know there'll be no more tears in heaven
Pedih, memang. Dan selalu pedih. Tapi kepedihan itulah yang selalu membuat blues mempuyai jiwa. Jiwa yang kemudian membuat blues tak lekang digilas waktu.
Dan dari tradisi serupa itu kemudian muncul maestro-mastro blues seperti Robert Johnson dan Perri Bradford. Dan juga musisi-musisi blues wanita yang belakangan lebih terkenal karena jauh lebih berhasil dalam dunia rekaman seperti Mamie Smith, Gertrude 'Mother of the Blues' Rainy, Bessie 'Empress of the Blues' Smith, dan bahkan Billie Holiday yang berhasil mengawinkan spirit blues pada jazz.
Mengembara dalam sejarah blues sungguh seperti mengembara dalam sejarah kepedihan. Ini mungkin karena blues memang telah ditakdirkan terkutuk. Setidaknya dengan kepedihan dan keterasingan yang memang terlanjur melekat, masih selalu melekat dan akan terus melekat padanya, sebagaimana makna blues dalam kamus yang kurang lebih adalah a state of being sad, or melancholy. (IB)**


JAZZ:
Dari Kampung Kumuh ke Dunia Sekolahan
MENURUT catatan, jazz—dicatat—dilahirkan tahun 1868 di kota New Orleans, Amerika Serikat. Musik yang mengakar pada musik blues ini kemudian bermutasi ke bentuk ragtime yang pada saat itu masih berupa permainan piano tunggal di bar-bar kumuh. Catatan itu mungkin keliru, tapi biarlah. Sekadar patok, tetenger, sebagai sekadar tanda bagi masa sesudahnya.
Adapun istilah Jazz, ternyata juga terdapat banyak catatan yang berbeda. San Francisco Bulletin terbitan 6 Maret 1913 misalnya, sudah memunculkan istilah “jazz”. Mornin’s Mornin menuliskannya dengan ejaan “jaz”. Sementara New York Sun terbitan 5 Agustus 1917 menyebut dengan kata Jas, Jass, Jasz atau Jazes, sebagai musik yang bersumber dari musik Afrika. Sumber lain mengatakan bahwa kata “jazz” sudah dikenal sebelum itu dengan ucapan “jess” yang konon berasal dari “jasm”, suatu perkataan yang punya arti ekspresif dalam usaha mengungkapkan kecepatan, kekuatan atau mungkin juga mencerminkan kepuasan seksual.
Menurut sejumlah peneliti, bentuk musik jazz yang dianggap sebagai bentuk awal yang berkembang dari zaman ke zaman hingga ke bentuk jazz sekarang adalah sekitar tahun 1915-1917. Pada masa itu musisi negro New Orleans memainkan musik jazz yang mempunyai ciri khas, sehingga lazim disebut sebagai New Orleans Style, sebagaimana dipelopori Blind Lemond Jefferson seorang gitaris jazz yang sangat dihormati saat itu.
Selain nama tersebut ada dua tokoh sangat berpengaruh dalam perkembangan musik jazz masa itu, yakni Sidney Bechet, Joseph “King” Oliver dan generasi berikutnya yang kemudian menjadi musisi legendaris, Louis Armstrong yang dilahirkan di New Orleans tanggal 1 Juli 1900.
Louis Armstrong dikenal sebagai master trumpet legendaris dengan tone hangat, attacknya juga sangat kuat dan jernih, di samping juga mempunyai warna jazz yang khas. Dialah solist muda pertama di dunia yang menggebrak dunia jazz pada usia belia. Dan, karena napasnya pendek, dia sering menggunakan note stakato dalam meniup, demikian juga vokalnya. Namun demikian, ia selalu tepat dalam memainkan note-notenya. Dan dia juga merupakan improvisor terbaik sepanjang zaman.
Dalam perkembangannya kemudian, jazz berkembang membentuk Dixieland. Ada yang menyebutkan bahwa pada awalnya musik Dixie ini tanpa memakai drum, tetapi menggunakan semacam kayu bergerigi seperti alat pencuci pakaian—semacam penggilesan—ditambah trompet (horn, cornet), trombone, clarinet, banjo dan tuba, digunakan juga piano dan gitar.
Dalam Dixie improvisasi dilakukan secara bersama-sama oleh para solois dari awal hingga akhir. Musisi yang sangat berjasa mengembangkan Dixie ini antara lain Pee Wee Russel, Jack Tea garden, Leon Bix Bederbecke, Duke Ellington dan beberapa musisi lainnya.
Era Swing dan Revolusi Bebop
Dari Dixie, jazz terus berkembang lagi ke Swing. Dikatakan Swing karena musiknya bergoyang-goyang. Dalam musik ini improvisasi dilakukan silih berganti dan iramanya lebih berekspresi. Era Swing ini berlangsung dari awal 1930an hingga 1940an. Dan, karena Swing sangat digemari di Amerika kala itu, jenis musik ini selanjutnya dinobatkan sebagai bagian dari kebudayaan Amerika.
Era swing ini ditandai dengan munculnya jazz band dengan jumlah pemain yang besar (big band), yang dapat dilihat sebagai sebuah bentuk orkestrasi ala Eropa yang diaplikasikan dalam jazz, walaupun tetap mempertahankan ciri-ciri pokoknya, seperti improvisasi, sinkopasi dan blue note (nada yang merendah pada not ketiga dan ketujuh yang merupakan ciri khas musik blues dan jazz).
Musisi yang eksis di era Swing ini antara lain Teddy Wilson dan pianis Mel Powell, juga ada seorang trumpeter kenamaan Roy Eldidge, tentunya juga tak bisa dilupakan tokoh musisi pembawa bentuk Swing seorang yang mendapat julukan The King Of Swing yakni Benny Goodman yang mulai meniup clarinet semenjak usia 10 tahun dan menekuni karirnya sebagai musisi professional pada usia 16 tahun dengan bergabung ke bandnya Ben Pollack, yaitu salah satu jazz band terbaik di Chicago waktu itu dan pada usia 18 tahun Benny Goodman merilis album rekaman atas namanya sendiri.
Sejak itu, jazz tidak lagi dianggap musik “barbar” karena identik dengan orang kulit hitam. Pada masa itu, jazz bahkan menjadi musik populer, dengan irama swing-nya yang cocok untuk berdansa, di samping juga mulai menyebar ke belahan dunia lain seperti Eropa ataupun Asia. Tidak sedikit komposisi-komposisi jazz dari musisi handal semacam George Gershwin, Cole Porter atau Duke Ellington diangkat menjadi soundtrack film, dan komposisi-komposisi tersebut sebenarnya merupakan lagu pop pada zamannya.
Perkembangan jazz yang semakin mengarah pada musik hiburan tersebut menimbulkan reaksi di kalangan musisi jazz kulit hitam. Beberapa diantaranya seperti Charlie Parker dan Dizzy Gillespie yang lantas memperkenalkan bebop, sebuah style baru dalam jazz pada sekitar akhir dekade 1940-an.
Kemunculan bebop ini sering disebut sebagai revolusi dalam musik jazz, karena konon para eksponennya memiliki sebuah spirit baru yang bertujuan mengembalikan jazz pada hakikatnya sebagai musik “seni” khas kaum negro. Aliran baru ini ditandai dengan berkembangnya formasi band/combo secara lebih minimalis dengan konsekuensi semakin luasnya ruang bagi improvisasi solo masing-masing pemain. Di samping gaya swing dengan formasi big band-nya, bebop dan beberapa variasi yang muncul kemudian (hard bop, cool jazz, dan sebagainya) menjadi aliran utama dan pusat dari perkembangan jazz dunia hingga masa kini.
Semenjak “revolusi” bebop, jazz agaknya cenderung berkembang menjadi sebuah genre yang lebih eksklusif daripada sebelumnya dan makin tampak terpisah dari berbagai jenis musik lain. Memang, jazz kemudian benar-benar berkembang menjadi sebuah musik “seni” dengan tingkat kesulitan tinggi sebagaimana halnya musik klasik.
Pergeseran Baru
Sebagai sebuah genre musik yang makin membutuhkan keseriusan, jazz kemudian seperti dijauhi khalayak. Terutama ketika trend rock’n roll makin merajai blantika musik populer dunia. Jika pada tahun 1940-an, jazz dapat dijumpai pada komunitas tempat hiburan kumuh dan pesta-pesta dansa, sejak 1950-an menunjukan pergeseran menuju komunitas intelektual dan akademisi.
Harus diakui, adanya revolusi bebop nampaknya memang membawa sejumlah dampak positif. Pertama, di tengah iklim rasialisme yang masih kuat hingga 1960-an—setidaknya ditandai dengan tertembaknya Martin Luther King, pejuang kulit hitam AS pada tahun 1968—jazz mulai dikategorikan sebagai bagian dari “budaya tinggi”, di saat musik rock yang diangkat kaum kulit putih justru lebih menjadi bagian dari “budaya massa”.
Kedua, dengan sedikit melepaskan diri dari bentuk orkestrasi ala swing semakin memungkinkan para musisi jazz melakukan eksplorasi-eksplorasi baru dengan mengadaptasikan unsur dari musik-musik yang dianggap dapat memperkaya jazz. Tanpa bebop, mungkin tidak akan pernah ada jazz fusion, avant garde atau world music yang mengeksplorasi musik-musik etnis dari berbagai belahan dunia.
Memang, pada masa-masa belakangan, semakin tampak bahwa musik jazz kerap dianggap bersebrangan dengan musik populer (rock dan pop). Padahal, kedua jenis musik tersebut memiliki hubungan satu sama lain yang saling mempengaruhi. Banyaknya lagu-lagu The Beatles yang dibawakan para musisi jazz sebagai lagu standar, setidaknya menjadi sedikit bukti. Begitu juga Sting, pentolan grup New Wave era 80-an, The Police, adalah juga seorang musisi jazz yang handal.
Interaksi jazz dengan musik-musik hiburan lainnya ini kemudian melahirkan berbagai sintesis baru yang memperkaya nuansa baik dalam jazz maupun rock. Bagi para musisi pop atau rock yang mengadopsi elemen jazz akan memberi mereka suatu nilai lebih karena dengan demikian akan dianggap lebih bermutu, sementara sebaliknya bagi kalangan musisi jazz, dengan mengadopsi unsur musik populer akan menyebabkan karya mereka lebih memiliki daya jual.
Munculnya berbagai bentuk sintesis antara jazz dan musik hiburan ini sering menjadi bahan perdebatan di kalangan kritikus musik, mengenai pengkategorian yang menjadi semakin kabur karenanya. Sejak sekitar tahun 1980-an, berbagai aliran baru ini diberi nama Adult Contemporary (AC), agaknya untuk menunjukkan bahwa musik ini ditujukan untuk kalangan usia tertentu yang dianggap telah “dewasa”, biasanya usia 30 tahun ke atas.
Musik-musik yang kerap dikategorikan sebagai AC ini misalnya, Fusion, yang lahir sekitar akhir dekade 1960-an, ketika Miles Davis, seorang eksponen bebop dan cool jazz mempopulerkan sebuah varian baru jazz dengan mengadopsi unsur rock dan soul (R&B). Kepeloporan Miles dilanjutkan oleh musisi-musisi generasi di bawahnya. Salah seorang yang paling sukses adalah Chick Corea yang mempopulerkan penggunaan instrumen elektronis dalam jazz, sehingga fusion kemudian hampir tidak dapat dilepaskan dari ciri (elektronis) tersebut.
Pada awalnya, fusion masih cukup sarat dengan improvisasi jazz, akan tetapi kemudian semakin mengarah pada pop dengan jenis komposisi yang disederhanakan untuk lebih menarik selera pasar. Jenis terakhir ini kemudian lebih populer dengan istilah smooth jazz atau terkadang disebut pula contemporary jazz.
Katagori AC lainnya adalah “Jazzy”, atau “sedikit bernuansa jazz”. Umumnya istilah ini dipergunakan untuk menyebut musik populer yang mengadopsi unsur jazz, umumnya pada progresi chord (yang mewakili unsur “blue note”) maupun irama (rhythm) yang sering dipergunakan dalam jazz misalnya swing, soul, bossanova dan sebagainya.
Beberapa pengusung awal jazzy antara lain kelompok Blood, Sweat & Tears (BS&T) dan Chicago sekitar tahun 1968. Artis-artis jazzy memiliki latar belakang beraneka ragam. Ada sebagian artis/musisi yang memang memilih jazzy sebagai konsep musiknya, ada pula yang menjadi “jazzy” hanya karena kolaborasinya dengan musisi-musisi jazz. Dengan demikian, warna musiknya akan beraneka ragam. Salah satu varian yang paling populer belakangan ini adalah acid jazz, dimana aliran musik baru ini konon merupakan hasil “ulah” para DJ (disc jockey) dalam menciptakan suatu jenis musik dance dengan memasukkan unsur jazz, soul, hip hop, dan funk dalam satu komposisi/lagu. Acid jazz yang dibawakan oleh grup seperti Brand New Heavies dan Incognito, dengan beat-nya yang dinamis ini dengan segera memperoleh sambutan dari kalangan pendengar yang lebih muda.
Jazz semakin semarak dengan munculnya cabang-cabang baru diera tahun 1990 hingga tahun 2000 ini dengan munculnya Acid Jazz yang memasukkan unsur-unsur Hip Hop bahkan Rap. Jenis yang satu inipun sangat diminati oleh para jazz lover muda, tak heran album yang dihasilkan oleh group US 3 laris manis bak kacang goreng. Juga group Incognito, dan bahkan musisi veteran macam Sergio Mandes ikutan pula mengusung aliran ini pada albumnya yang berlabel “Timeless” yang berkoloborasi dengan Black Eyed Peace yang mendapatkan piringan emas karena sukses secara komersial.
Itulah jazz yang sebenarnya adalah musik yang ekspresif bahkan inovatif, jazz juga sebetulnya bersifat sangat familiar, karena jazz dapat dimainkan dimana saja, tak pilih-pilih tempat, sekalipun dimainkan dipinggir jalan, jazz akan mampu berintegrasi dengan penikmatnya dengan baik. (IB)**

JAZZ DI INDONESIA
GROUP Irama Special Quartet, boleh jadi merupakan grup band jazz pertama di Indonesia yang membuat rekaman di studio Irama, Jakarta di tahun 1950-an. Group ini dipimpin Nick Mamahit dan didukung Dick Abel (gitar dan saksofon), Dick van der Capellen (bas), dan Max van Dahm (drum). Namun demikian, musik jazz sudah dikenal di Indonesia jauh sebelum kemerdekaan. Kala itu, sekitar tahun 1902, sebuah group band yang bernama Black and White—nama yang kerap digunakan musisi jazz di negeri tempat lahirnya jazz, Amerika Serikat—yang didirikan oleh Edward Edo Tambayong.
Selain Edward Edo Tambayong—Edo Kento—di dalam group Black and White ini juga terdapat Belloni dan Garda, keduanya orang Italia di samping juga ada George Woles, seorang Amerika hitam. Meskipunbelum berbentuk jazz sebagaimana yang dimainkan di New Orleans, group ini konon juga sudah memainkan Lazy Moon, yang syairnya ditulis Bob Cole dengan musik J.Rosamond Johnson.
Lazy Moon come out soon
Make my poor heart beat warmer
Light the way bright as day
For my sweet little charmer
She’s to meet me in the lane tonight
If the sky is bright and clear
Oh moon don’t keep me waiting here tonight
Watching and awaiting
Heart a palpitatin’
Longing for my lady love so dear
Lazy Moon, Lazy Moon
Why don’t you show your face above the hill
Lazy Moon, Lazy Moon
You can make me happy if you will
When my lady sees your light a peepin’
then I know her promise she’ll be keepin’
tell me whats the matter, are you sleepin’
Lazy Moon
Menurut Deded Er Moerad (Jazz Indonesia, 1995), beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 1920, di Ujung Pandang muncul group band jazz dengan nama sama, Black and White dengan salah satu tokohnya WR Supratman, pencipta lagu Indonesia Raya. Hanya saja, sejak itu dan hingga perang kemerdekaan catatan mengenai group musik di negeri ini tidak mudah didapatkan.
Sampai kemudian muncullah tokoh-tokoh seperti Tjok Sinsoe, Boetje Pesolima, Jahya, Chen Bersaudara dan lainnya. Setelah itu muncul Mus Mualim, Bubi Chen, Didi Chia, Maryono juga Edy Karamoy, selanjutnya ada Jack Lesmana, Bill Saragih, Tim Katamso, dan juga Nick Mamahit, Dick Abel, Dick Van Der Capellan, serta Max Van Dalm. Empat nama terakhir yang tergabung di dalam group Irama Special Quartet ini menjadi kelompok jazz pertama yang memasuki dunia rekaman.
Memasuki dasawarsa 60-an, perkembangan musik jaz di Indonesia menyurut, seiring dengan irama politik yang tengah berkembang kala itu. Pada saat itu, pemain dan penggemar jazz dihinggapi perasaan takut dituduh sebagai antek imperialisme, sehingga mereka pun harus main kucing-kucingan.
Namun demikian, di saat seperti itu, Radio Republik Indonesia (RRI) justru memberikan ruang yang cukup menguntungkan bagi para musisi. Bertempat di Studio Lima RRI Jakarta, sejumlah musisi jazz kenamaan seperti Tony Scott (klarinet), Buddy Rich (drum), Mike Manieri (vibraphone) dan sejumlah pemusik jazz kondang Amerika Serikat lainnya datang bermain dengan musisi jazz Indonesia seperti Bubi Chen, Eddy Karamoy dan sebagainya. Selain itu, Badan Koordinasi Kesenian Mahasiswa Universitas Indonesia, secara bahu membahu juga menyelenggarakan pagelaran jazz keliling, mengunjungi 12 kampus Perguruan Tinggi yang ada di Pulau Jawa.
Akibatnya, perkembangan jazz pun menjadi tidak terbendung. Generasi-generasi jazz baru pun muncul kemudian. Seperti generasi Kibod dan Ireng Maulana, Victor Rompas, Hendra Wijaya, Benny Mustapha, Benny Likumahua dan lainnya. Setelah itu menyusul angkatan Abadi Soesman, Chandra Darusman, Embong Rahardjo, Jopie Item, Udin Syach dan pianis Bambang Nugroho, dan yang paling muda ketika itu adalah Indra Lesmana yang sempat dinobatkan oleh majalah khusus jazz Amerika “Down Beat” sebagai pianis sangat berbakat.
Pada dasawarsa 80-an perkembangan musisi jazz kian semarak. Beberapa nama seperti Idang Rasyidi, Elfa Secioria, Luluk Purwanto dan lain lain mencatatkan sejumlah prestasi.
Beberapa nama seperti Maryono, Udin Syach, Embong Rahardjo, dan Benny Likumahua misalnya mulai kerap tampil pada festival jazz berskala internasional seperti North Sea Jazz Festival di Belanda, begitu juga Bubi Chen dan kawan-kawan pernah memeriahkan Singapore Jazz Festival. Juga jangan lupa group macam Baskhara, Karakatau dan Elfa’s Singer pernah menikmati dan tampil pada event-event jazz bergengsi di luar negeri.
Perkembangan musik jazz yang cukup pesat di tanah air tentu tak lepas dari dukungan media elektronik seperti TVRI, yang pada saat itu menyediakan kapling program “Irama Jazz” yang dikhususkan untuk para musisi jazz kita agar dapat menyalurkan talentanya. Pada tahun 1980 an selain TVRI ada juga media elektronik lain yang khusus menyajikan musik jazz seperti radio Elshinta di Jakarta (sekarang radio ini sudah berubah format menjadi radio berita) dan tercatat juga di kota kembang Bandung ada radio KLCBS yang juga full jazz. Selain itu, juga tidak bisa dilupakan adanya klub-klub jazz yang sempat bertaburan di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, Klub tersebut antara lain adalah Jamz milik pengusaha Peter F Gontha.
Memasuki era 2000-an, musik jazz di Indonesia makin meruyak. Sejumlah group-group baru yang mengusung format musik jazz juga sukses secara komersial seperti Bali Lounge, Maliq & D’Essentials, Park Drive, Rieka Roeslan, Sova dan Balawan gitaris asal Bali yang permainannya selalu mendapat pujian, baik di dalam negeri maupun luar negeri, dan banyak lagi. Begitu juga dengan pagelaran jazz di negeri kita yang kian semarak.
Bila pada 1960-an Tony Scott, pemain clarinet terkemuka asal Amerika pernah menyambangi negeri kita untuk menggelar konser, juga Duke Ellington yang pernah pula memeriahkan pentas jazz tanah air, maka sejak 1980-an, pagelaran musik di negeri ini sudah luar biasa banyak. Beberapa diantaranya yang cukup fenomenal adalah Jakarta International Jazz Festival (Jak Jazz).
Perhelatan jazz akbar ini juga diikuti musisi jazz dunia baik dari Amerika, Eropa dan Asia dan tentu saja ratusan musisi jazz kita. Beberapa musisi luar yang memeriahkan Jak Jazz pertama itu adalah Phil Perry, Lee Ritenour, Larry Corvell, Kazumi Watanabe, Frederick Noran Band, Igor Brill Ensemble.
Pada tahun 2005 Peter F Gontha kembali membuat kejutan dengan digelarnya Java Jazz., Ini adalah sebuah event jazz internasional yang kembali bergaung di Indonesia (karena Jak Jazz sempat vakum hampir 8 tahun, untuk kemudian digelar kembali tahun 2006, dan terakhir pada November 2008 yang lalu).
Java Jazz sendiri sudah digelar 4 kali, terakhir tahun 2008. Musisi yang meramaikan ajang Java Jazz antara lain Jeff Lorber, Incognito, Lee Ritenour, Mike Lington Level 42 sampai Jamie Cullum dan lain sebagainya. (IB) **

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar Anda..

Template by:
Free Blog Templates