Melihat Linggapura yang kini penuh sesak dengan rumah-rumah yang saling menyerobot untuk maju, jalanan nampak kinclong dengan aspal dan semen, kita seperti dibuai rona sebuah kota. Tapi di balik itu, kita sebetulnya tengah diseret pada sebuah petaka.
JANUARI telah lama lalu, Februari masih di tengah jalan, langit di sekujur P. Jawa masih terus mengguyur bumi dengan hujan. Hal se rupa terjadi juga di Linggapura. Kisah mu sim hujan tak lagi monopoli bulan mber-mberan, tetapi menjadi semakin mengacak.
Selain mengacak musim, air hujan juga nampak kian segan singgah ke perut bumi. Bangunan yang kian padat, ditingkahi ham paran semen dan aspal telah mnghalangi fungsi pori-pori bumi. Ada kesan kuat bah wa, kita ingin menandai kemajuan dan pembangunan yang telah mereka capai.
Dan entah siapa yang mengajari, pembangunan, modernisasi dan kemajuan sepertinya hanya dapat diwakili dengan besi, aspal, beton dan juga plastik. Lumut, endut, tlepong sapi, jaran dan kebo, begitu pula jerami, ani-ani, godong gedang dan jati secara bertahap namun pasti, dipersilahkan menepi. Materi-materi dari alam yang mudah diolah itu seakan dianggap sebagai wakil dari masa silam, kemunduran, keterbelakangan, juga kejumudan.
Sampai kini, kita nampaknya masih le ngah akan akibat “pemujaan” pada aspal, beton, besi, dan plastic dalam kehidupan sehari-hari. Tapi cobalah panjenengan sesekali membandingkan dalamnya sumur kita hari ini dengan beberapa tahun silam.
Sepuluh tahun lalu, mungkin masih 5-7 M, tapi kini, boleh jadi sudah 10-15 M, atau lebih. Dan kita tidak tahu, berapa 10-20 tahun kedepan, ketika kita telah renta.
Dengan alasan belok, becek dan agar awet, kita telah melumuri jalanan dengan aspal dan semen. Pada saat yang sama, kita juga kian pelit untuk menyisakan ruang dan waktu untuk menanam pepohonan. Kini, kaum Ibu juga tak lagi gemar membawa tas kalau belanja. Godong jati dan pisang yang dulu kita pake mbungkus nasi dan gorengan tempe serta dagebal, kini telah kita ganti dengan plastic.
Padahal, plastic kresek, di samping ber acun, apalagi bila diisi makanan panas, baru akan hancur di alam setelah 150 tahun. Filter rokok, butuh 17 tahun, pipa paralon, butuh 85 tahun dan sebagainya.
Dan apa yang terjadi setelah tumpukan semua persoalan itu?
Bila musim kemarau, air di Linggapura begitu mudah langka. Mungkin telah lebih dari dua dasawarsa, halimun (kabut) tak lagi singgah di desa kita. Udara terasa semakin panas. Kunang-kunang juga tak lagi ada. Begitu pula sejumlah jenis burung dsb
Lalu, adakah sedikit jalan yang kita punya untuk mengendalikan semua keburukan yang kadung kita kerjakan?
Jawabnya tentu saja ada. Selain menghentikan semua laku buruk, kita juga punya satu titik yang bisa kita jadikan pijakan. Dan titik itu adalah Sempora.
Pegunungan kecil yang dikepung tujuh dukuh itu dalam peta besar Linggapura tak ubahnya sebagai mesin air. Dengan sedikit rekasa dan kerjasama dengan para pemilik lahan tentu saja, kawasan ini juga cukup menjanjikan untuk dijadikan obyek agrowi sata. Dengan demikian, 5-10 mendatang, kita, Insya Allah akan menuai manfaat ber lipat ganda. Jadi kenapa tidak kita coba?l
Selain mengacak musim, air hujan juga nampak kian segan singgah ke perut bumi. Bangunan yang kian padat, ditingkahi ham paran semen dan aspal telah mnghalangi fungsi pori-pori bumi. Ada kesan kuat bah wa, kita ingin menandai kemajuan dan pembangunan yang telah mereka capai.
Dan entah siapa yang mengajari, pembangunan, modernisasi dan kemajuan sepertinya hanya dapat diwakili dengan besi, aspal, beton dan juga plastik. Lumut, endut, tlepong sapi, jaran dan kebo, begitu pula jerami, ani-ani, godong gedang dan jati secara bertahap namun pasti, dipersilahkan menepi. Materi-materi dari alam yang mudah diolah itu seakan dianggap sebagai wakil dari masa silam, kemunduran, keterbelakangan, juga kejumudan.
Sampai kini, kita nampaknya masih le ngah akan akibat “pemujaan” pada aspal, beton, besi, dan plastic dalam kehidupan sehari-hari. Tapi cobalah panjenengan sesekali membandingkan dalamnya sumur kita hari ini dengan beberapa tahun silam.
Sepuluh tahun lalu, mungkin masih 5-7 M, tapi kini, boleh jadi sudah 10-15 M, atau lebih. Dan kita tidak tahu, berapa 10-20 tahun kedepan, ketika kita telah renta.
Dengan alasan belok, becek dan agar awet, kita telah melumuri jalanan dengan aspal dan semen. Pada saat yang sama, kita juga kian pelit untuk menyisakan ruang dan waktu untuk menanam pepohonan. Kini, kaum Ibu juga tak lagi gemar membawa tas kalau belanja. Godong jati dan pisang yang dulu kita pake mbungkus nasi dan gorengan tempe serta dagebal, kini telah kita ganti dengan plastic.
Padahal, plastic kresek, di samping ber acun, apalagi bila diisi makanan panas, baru akan hancur di alam setelah 150 tahun. Filter rokok, butuh 17 tahun, pipa paralon, butuh 85 tahun dan sebagainya.
Dan apa yang terjadi setelah tumpukan semua persoalan itu?
Bila musim kemarau, air di Linggapura begitu mudah langka. Mungkin telah lebih dari dua dasawarsa, halimun (kabut) tak lagi singgah di desa kita. Udara terasa semakin panas. Kunang-kunang juga tak lagi ada. Begitu pula sejumlah jenis burung dsb
Lalu, adakah sedikit jalan yang kita punya untuk mengendalikan semua keburukan yang kadung kita kerjakan?
Jawabnya tentu saja ada. Selain menghentikan semua laku buruk, kita juga punya satu titik yang bisa kita jadikan pijakan. Dan titik itu adalah Sempora.
Pegunungan kecil yang dikepung tujuh dukuh itu dalam peta besar Linggapura tak ubahnya sebagai mesin air. Dengan sedikit rekasa dan kerjasama dengan para pemilik lahan tentu saja, kawasan ini juga cukup menjanjikan untuk dijadikan obyek agrowi sata. Dengan demikian, 5-10 mendatang, kita, Insya Allah akan menuai manfaat ber lipat ganda. Jadi kenapa tidak kita coba?l


0 komentar:
Posting Komentar
Komentar Anda..