Para sedulurku dan juga adik-adikku ning Kalingga
Assalamu’alaikum wr wb
Saya ingin mengawali tulisan ini dengan beberapa bagian yang sederhana. Mungkin bisa menjadi awal tentang komunitas Kalingga. Sebuah komunitas yang menjadi bagian dari mayapada, dan karena itu, saya tak berharap sempurna. Sebagaimana dunia, selalu menampik untuk sempurna, sebab sebuah komunitas—pun sebuah negeri—bukanlah sebuah karya seni arsitektur. Tiap kali akan selalu ada yang ganjil, yang tak pas, dan gawal. Tiap kali akan ada seseorang yang mengeluh, menanyakan, atau menulis. Dan dunia selalu terbuka, atau terusik, karena akan selalu datang teks yang lain dan juga berjuta-juta tulisan.
Tiap tulisan adalah sebuah coretan atas selembar kertas polos—sebuah interupsi terhadap kesatuwarnaan. Tiap tulisan adalah sebuah kehadiran yang tak selamanya bisa diduga sebelumnya pada sebuah dataran yang rata. Tiap tulisan bisa menghadirkan makna yang tak bisa sepenuhnya diringkus dalam sebuah desain. Pendek kata, tiap tulisan adalah perlawanan terhadap arsitektur. Tiap tulisan adalah ribuan subversi terhadap panorama yang mengklaim diri sempurna.
Dari sana, kita bisa kembali—setiap saat—pada introduksi, pendahuluan, prelude, sambil nggendong—sebagaimana dikatakan Max Weber—etika dan tanggungjawab. Dengan cara itu, kita menumbuhkan kesediaan menerima batas, juga akrab berkawan dengan lawan di medan pergulatan. Dari sana kita berharap, suasana damai dalam hidup dapat dimungkinkan, dan selanjutnya tata sesrawungan yang semarak dengan asah, asih, dan asuh menjadi keniscayaan.
Hanya memang, dalam komunitas seperti itu manusia menjadi jauh lebih majemuk ketimbang sekadar hasil sebuah rumusan. Dalam komunitas seperti itu manusia diakui justru sebagai sesuatu yang tak-terumuskan, sesuatu yang tak bisa diterangkan oleh ideologi. Tapi justru pada titik itulah kita mencoba hadir. Bukan untuk menjadi hantu yang membayang-bayangi. Bukan pula untuk menjadi dewa yang akan melintasi waktu. Tapi dengan impian, kemarahan yang benar, juga dengan batas-batas, dan tak sendirian, tapi bersama Anda, kini dan di kemudian hari. Smoga.
Wasalam
Imam Baehaqie Abdullah


0 komentar:
Posting Komentar
Komentar Anda..